Naharul Ijtima' Ranting NU Randuagung: Wadah Silaturahmi dan Penguatan Tradisi Ke-NU-an
Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (NU) Randuagung rutin menyelenggarakan Naharul Ijtima', kegiatan keagamaan bulanan yang menjadi wadah silaturahmi pengurus NU dengan masyarakat sekaligus sarana penguatan tradisi ke-NU-an di Desa Randuagung.

Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (NU) Randuagung secara rutin menyelenggarakan Naharul Ijtima', sebuah kegiatan keagamaan bulanan yang menjadi wadah silaturahmi antara pengurus NU dengan masyarakat Desa Randuagung sekaligus sarana penguatan tradisi dan nilai-nilai ke-NU-an.
Jadwal dan Lokasi Pelaksanaan
Kegiatan Naharul Ijtima' dilaksanakan setiap Jumat Legi setelah salat Ashar dengan tempat pelaksanaan yang berpindah-pindah dari satu masjid atau musala ke masjid dan musala lainnya di wilayah Desa Randuagung. Dengan sistem berpindah tempat tersebut, kegiatan diharapkan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat sekaligus mempererat hubungan antara pengurus NU dan warga di berbagai lingkungan.
Rangkaian Kegiatan
Kegiatan diawali dengan pembacaan istighotsah, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Manaqib Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani. Setelah itu, kegiatan diisi dengan sambutan dari Ketua Ranting NU Randuagung dan ditutup dengan kajian Kitab At-Tanbihat al-Wajibat karya Hadrotus Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari, pendiri Jam'iyyah Nahdlatul Ulama. Kajian tersebut disampaikan oleh Rois Syuriah Ranting NU Randuagung, Gus Fathulloh Udin.
Harapan Ketua Ranting NU Randuagung
Ketua Ranting NU Randuagung, Badruz Zaman, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang untuk memperkuat silaturahmi antara pengurus Ranting NU dengan masyarakat. "Kegiatan ini kami harapkan menjadi wadah silaturahmi antara pengurus Ranting NU dengan masyarakat yang ada di Randuagung. Selain sebagai kegiatan keagamaan, Naharul Ijtima' juga menjadi momentum untuk mempererat komunikasi dan kebersamaan warga Nahdliyyin," ungkapnya.
Naharul Ijtima' dan Lailatul Ijtima'
Menurut Badruz Zaman, secara organisatoris istilah yang lazim digunakan dalam kegiatan NU adalah Lailatul Ijtima', yang berarti pertemuan pada malam hari. Namun, setelah mempertimbangkan berbagai kondisi dan kebutuhan masyarakat, Ranting NU Randuagung memilih melaksanakan kegiatan tersebut pada sore hari setelah salat Ashar. Karena itu, istilah yang digunakan adalah Naharul Ijtima'.
"Secara umum, semangat dan esensinya tetap sama, yaitu menjadi forum silaturahmi, pembinaan keagamaan, dan penguatan organisasi. Perubahan waktu pelaksanaan ini diharapkan tidak mengurangi esensi dari amanat dan tradisi organisasi NU," jelasnya.
Makna Pemilihan Kitab At-Tanbihat al-Wajibat
Pemilihan Kitab At-Tanbihat al-Wajibat sebagai materi kajian juga memiliki makna tersendiri. Kitab karya KH. M. Hasyim Asy'ari tersebut dipilih sebagai upaya untuk menumbuhkan kembali semangat berorganisasi yang berlandaskan nilai, tradisi, dan nasihat para pendiri Nahdlatul Ulama.
"Dengan mengkaji karya Hadrotus Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari, kami berharap semangat dalam berkhidmah dan berorganisasi tetap berada dalam koridor yang telah diwariskan oleh para pendiri NU, serta mudah-mudahan mendapatkan keberkahan dari perjuangan dan keteladanan beliau," tambah Badruz Zaman.
Penutup
Melalui Naharul Ijtima', Ranting NU Randuagung berupaya menjadikan kegiatan keagamaan bukan sekadar rutinitas, tetapi juga sebagai sarana silaturahmi, penguatan ukhuwah, pembinaan warga, serta menjaga kesinambungan tradisi keilmuan dan amaliyah Nahdlatul Ulama di tengah masyarakat. Dengan pelaksanaan yang berpindah-pindah dari masjid dan musala, kegiatan ini diharapkan terus menjadi ruang perjumpaan antara pengurus dan masyarakat, sehingga semangat khidmah, kebersamaan, dan kecintaan terhadap tradisi NU dapat terus tumbuh dan berkembang di Desa Randuagung.
Tentang Penulis
Redaktur Nur Media
Redaktur Nur Media, kontributor Nur Media.


