Kemuliaan Nabi Muhammad ﷺ dan Keutamaan Memperbanyak Istighfar
Ulasan tentang kemuliaan Rasulullah ﷺ menurut Qasidah Burdah, keutamaan beliau dibanding para nabi, serta hikmah memperbanyak istighfar bagi umatnya berdasarkan Al-Qur'an dan hadis.

Dalam syair Qasidah Burdah karya Imam al-Bushiri رحمه الله, terdapat bait-bait yang menjelaskan keagungan dan kemuliaan Rasulullah ﷺ.
Kemuliaan Nabi Muhammad ﷺ di Atas Para Rasul
Allah Ta'ala telah memuliakan Rasulullah ﷺ dengan kedudukan yang tidak tertandingi. Imam al-Bushiri رحمه الله melukiskan keagungan beliau dalam bait berikut:
مُحَمَّدٌ سَيِّدُ الْكَوْنَيْنِ وَالثَّقَلَيْنِ وَالْفَرِيقَيْنِ مِنْ عُرْبٍ وَمِنْ عَجَمِ وَنَبِيُّنَا الْآمِرُ النَّاهِي فَلَا أَحَدٌ أَبَرَّ فِي قَوْلِ لَا مِنْهُ وَلَا نَعَمِ
"Nabi Muhammad ﷺ adalah pemimpin dua alam, jin dan manusia, serta kedua golongan, bangsa Arab maupun bangsa selain Arab. Beliau adalah Nabi yang memerintah dan melarang; tidak ada seorang pun yang lebih baik dalam mengucapkan "tidak" maupun "ya" daripada beliau."
Dalam Qasidah Burdah juga terdapat bait yang lebih langsung menjelaskan keutamaan Rasulullah ﷺ:
فَاقَ النَّبِيِّينَ فِي خَلْقٍ وَفِي خُلُقٍ وَلَمْ يُدَانُوهُ فِي عِلْمٍ وَلَا كَرَمِ
"Beliau mengungguli para nabi dalam penciptaan dan akhlak. Mereka tidak menyamai beliau dalam ilmu maupun kemuliaan."
Bait ini mengajarkan kepada kita bahwa Rasulullah ﷺ memiliki keagungan yang sangat tinggi, baik dari sisi penciptaan, akhlak, ilmu, maupun kemuliaan. Kemudian Imam al-Bushiri melanjutkan:
وَكُلُّهُمْ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ مُلْتَمِسٌ غَرْفًا مِنَ الْبَحْرِ أَوْ رَشْفًا مِنَ الدِّيَمِ
"Dan semua nabi mengambil dari Rasulullah ﷺ, baik dengan mengambil segenggam dari lautan kemuliaannya maupun seteguk dari hujan keutamaannya."
Bait ini merupakan ungkapan puitis tentang keluasan keutamaan Rasulullah ﷺ. Para nabi pun memiliki kedudukan yang mulia, tetapi kemuliaan Nabi Muhammad ﷺ mempunyai derajat yang sangat agung di sisi Allah.
Kalau Para Nabi Memiliki Kemuliaan, Bagaimana dengan Kita sebagai Umatnya?
Kalau para nabi saja memiliki kedudukan yang mulia dan kita diperintahkan untuk mengimani serta mengambil pelajaran dari perjalanan mereka, maka kita sebagai umat Nabi Muhammad ﷺ sudah semestinya berusaha meneladani beliau. Tentu kita tidak mungkin meniru seluruh amalan beliau secara sempurna. Akan tetapi, kita harus berusaha meneladani Rasulullah ﷺ semampu kita, sedikit demi sedikit, tetapi istiqamah.
Salah satu teladan yang sering kita lupakan adalah memperbanyak istighfar. Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling mulia, dijaga oleh Allah, dan telah mendapatkan kabar gembira berupa ampunan-Nya. Meskipun demikian, beliau tetap memperbanyak istighfar setiap hari. Dalam hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:
وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
""Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.""
Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِي، وَإِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ
""Sesungguhnya terkadang ada sesuatu yang menyelimuti hatiku, dan sesungguhnya aku benar-benar memohon ampun kepada Allah seratus kali dalam sehari.""
Adapun tentang ampunan atas dosa yang telah lalu dan yang akan datang, Allah berfirman:
لِّيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنۢبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ
""Agar Allah memberikan ampunan kepadamu atas dosamu yang telah lalu dan yang akan datang." (QS. Al-Fath: 2)"
Ayat ini merupakan bagian dari kabar gembira dan pemuliaan Allah kepada Rasulullah ﷺ. Namun, jangan sampai kita memahami bahwa istighfar beliau tidak memiliki makna. Justru di sinilah tampak kesempurnaan ubudiyah, ketundukan, dan kedekatan beliau kepada Allah.
Kalau Rasulullah ﷺ Saja Beristighfar, Bagaimana dengan Kita?
Rasulullah ﷺ memperbanyak istighfar, padahal beliau adalah manusia pilihan Allah. Lalu bagaimana dengan kita yang setiap hari tidak luput dari kekurangan, kesalahan, dan dosa? Kita sering melakukan kesalahan dalam ucapan, kurang berhati-hati dalam tindakan, lalai dalam ibadah, bahkan terkadang melakukan dosa tanpa kita sadari.
Maka, kalau Rasulullah ﷺ saja memperbanyak istighfar, seharusnya kita lebih membutuhkan istighfar. Kita beristighfar dengan dua niat:
- Memohon ampun kepada Allah atas dosa dan kesalahan yang kita lakukan. - Ittibā' kepada Rasulullah ﷺ, yakni mengikuti sunah dan meneladani kebiasaan beliau.
Jangan hanya menggerakkan lisan. Hadirkan pula hati yang mengakui kelemahan diri, berharap ampunan Allah, dan memiliki keinginan untuk memperbaiki kehidupan. Dengan demikian, istighfar bukan sekadar ucapan, melainkan jalan untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah.
Janji Allah bagi Orang yang Memperbanyak Istighfar
Allah SWT berfirman dalam Surah Nuh ayat 10–12:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ١٠ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ١١ وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا ١٢
""Maka aku berkata kepada mereka, 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.'" (QS. Nuh: 10–12)"
Ayat ini menunjukkan bahwa istighfar merupakan sebab datangnya rahmat dan berbagai kebaikan dari Allah SWT. Di antara faedah yang disebutkan dalam ayat tersebut ialah:
- Memperoleh ampunan Allah SWT. - Mendapatkan keberkahan dan limpahan rahmat-Nya. - Mendapatkan rezeki dan kecukupan sesuai dengan kehendak Allah. - Memperoleh kebaikan dalam kehidupan keluarga dan keturunan.
Namun, perlu dipahami bahwa istighfar bukanlah jaminan bahwa setiap orang pasti langsung kaya, memiliki banyak anak, atau terbebas dari segala kesulitan. Allah memberikan karunia sesuai hikmah dan kehendak-Nya. Orang yang beristighfar pun bisa diuji dengan kesulitan, tetapi ia tetap memiliki pintu untuk kembali kepada Allah dan mengharapkan rahmat-Nya.
Karena itu, jangan sampai kita baru beristighfar ketika sedang membutuhkan uang, sedang sakit, atau menghadapi masalah. Jadikan istighfar sebagai amalan harian, baik ketika sedang lapang maupun ketika sedang sempit.
Tentang Penulis
Ahmad Ali Kaysiey
Ahmad Ali Kaysiey, redaktur Nur Media (via WhatsApp).


