Keutamaan Istighfar dan Keberkahan Maulid Nabi ﷺ
Istighfar bukan sekadar ucapan lisan, melainkan pengakuan atas kelemahan hamba sekaligus pengharapan akan ampunan Allah. Berikut uraian tentang keutamaannya dalam Al-Qur'an, hadis, serta kisah para ulama.

Dalam Al-Qur'an, terdapat perintah untuk memperbanyak zikir kepada Allah. Salah satu di antaranya disebutkan dalam Surah An-Nasr, ketika Allah memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk bertasbih dan memohon ampun setelah datangnya pertolongan dan kemenangan. Allah berfirman:
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
""Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat.""
Dari ayat tersebut, dua amalan yang sangat ditekankan adalah tasbih dan istighfar.
Keistimewaan Istighfar
Istighfar bukan sekadar ucapan astaghfirullah. Di dalamnya terdapat pengakuan seorang hamba atas kelemahan dan kesalahannya, sekaligus pengharapan terhadap ampunan dan pertolongan Allah.
Salah satu kisah yang masyhur tentang keutamaan istighfar dinisbatkan kepada Hasan al-Bashri. Dikisahkan, suatu ketika Hasan al-Bashri kedatangan seorang tamu yang mengeluhkan kondisi daerahnya. Sudah lama hujan tidak turun sehingga masyarakat mengalami kesulitan. Hasan al-Bashri kemudian memberikan jawaban singkat: "Perbanyaklah istighfar."
Tidak lama kemudian datang tamu yang lain. Ia mengeluhkan kondisi usahanya yang sedang mengalami pasang surut. Kembali Hasan al-Bashri memberikan nasihat: "Perbanyaklah istighfar." Kemudian datang tamu yang lain dan mengeluhkan bahwa dirinya telah lama belum dikaruniai keturunan. Jawabannya pun sama: "Perbanyaklah istighfar."
Orang-orang yang berada di sekitarnya kemudian bertanya, mengapa setiap persoalan selalu dijawab dengan anjuran memperbanyak istighfar? Hasan al-Bashri kemudian mengingatkan mereka kepada firman Allah dalam Surah Nuh ayat 10–12:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلُ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
""Maka aku berkata kepada mereka, 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.'""
Ayat tersebut menunjukkan bahwa istighfar memiliki hubungan erat dengan datangnya berbagai bentuk rahmat dan pertolongan Allah.
Kisah Imam Ahmad bin Hanbal dan Tukang Roti
Keutamaan istighfar juga sering disampaikan melalui kisah Imam Ahmad bin Hanbal, salah seorang imam besar dalam khazanah keilmuan Islam. Dikisahkan, suatu ketika Imam Ahmad bin Hanbal merasa rindu kepada salah seorang sahabatnya. Jarak yang cukup jauh tidak menghalangi beliau untuk menempuh perjalanan dengan berjalan kaki.
Sesampainya di tempat tujuan, hari telah malam. Setelah melaksanakan salat Isya, beliau bermaksud beristirahat. Namun, pengurus masjid tidak mengenali beliau dan meminta beliau meninggalkan masjid. Imam Ahmad kemudian keluar. Di dekat masjid terdapat sebuah rumah. Pemilik rumah mendengar bahwa ada seorang tua yang terusir dari masjid. Ia kemudian menawarkan tempat untuk beristirahat.
Ternyata pemilik rumah tersebut bekerja sebagai pembuat roti. Sepanjang malam, sambil bekerja membuat roti, si tukang roti tampak terus menggerakkan lisannya. Bibirnya senantiasa mengucapkan sesuatu. Imam Ahmad kemudian bertanya: "Apa yang engkau baca? Apakah mantra?"
Tukang roti tersebut menjawab: "Bukan. Saya sedang memperbanyak membaca istighfar." Imam Ahmad bertanya lagi: "Lalu, apa yang sudah engkau dapatkan dari istighfarmu?" Tukang roti itu kemudian bercerita bahwa dahulu dirinya hanya bekerja sebagai pegawai di sebuah pabrik roti. Setelah memperbanyak istighfar, Allah memberikan kemudahan hingga ia mampu membuka usaha roti sendiri. Ia juga mendapatkan kesempatan untuk lebih banyak beribadah dan menghadiri majelis ilmu.
Imam Ahmad kemudian bertanya: "Apakah masih ada satu permintaanmu yang belum dikabulkan?" Tukang roti menjawab: "Masih ada satu." "Apa itu?" Ia menjawab: "Saya sangat ingin bertemu dengan Imam Ahmad bin Hanbal. Saya sangat mencintai para ulama."
Imam Ahmad kemudian tersenyum dan berkata: "Kalau begitu, doamu sudah dikabulkan. Karena orang yang sedang engkau cari itu adalah saya." Tukang roti tersebut tentu sangat terkejut. Ia tidak pernah menyangka bahwa seorang musafir yang datang ke rumahnya adalah Imam Ahmad bin Hanbal sendiri.
Kisah tersebut kemudian sering disampaikan sebagai gambaran tentang barokah istighfar. Istighfar bukan berarti setiap permintaan akan dikabulkan persis sesuai keinginan kita, tetapi istighfar dapat menjadi sebab datangnya ampunan, rahmat, kemudahan, dan berbagai bentuk kebaikan dari Allah.
Nabi Muhammad ﷺ Memperbanyak Istighfar
Rasulullah ﷺ sendiri merupakan teladan dalam memperbanyak istighfar. Dalam hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ beristighfar dan bertobat kepada Allah seratus kali dalam sehari. Hal ini menunjukkan bahwa istighfar bukan hanya untuk orang yang merasa banyak dosa. Justru semakin tinggi kedudukan seorang hamba di hadapan Allah, semakin besar pula kesadarannya terhadap kebutuhan untuk selalu memohon ampun kepada-Nya.
Waktu yang Baik untuk Beristighfar
Di antara waktu yang sangat baik untuk memperbanyak istighfar adalah:
1. Menjelang tidur, sebagai bentuk introspeksi atas segala kekurangan dan kesalahan sepanjang hari. 2. Waktu sahur atau menjelang Subuh, karena Al-Qur'an memuji orang-orang yang memohon ampun pada waktu sahur.
Dalam berdoa, kita juga dapat menggunakan urutan adab yang baik: memuji Allah, membaca shalawat, beristighfar, kemudian menyampaikan hajat kepada Allah. Dengan demikian, istighfar tidak hanya menjadi amalan lisan, tetapi menjadi bagian dari kehidupan seorang Muslim.
Maulid Nabi dan Semangat Berbagi
Selain membahas istighfar, dalam majelis juga disampaikan mengenai sejarah dan semangat penyelenggaraan Maulid Nabi Muhammad ﷺ. Salah satu tokoh yang sering disebut dalam pembahasan sejarah perayaan Maulid adalah Raja al-Muzaffar, penguasa Irbil. Ia hidup pada masa yang berdekatan dengan periode Shalahuddin al-Ayyubi.
Dalam sejumlah riwayat sejarah, Raja al-Muzaffar dikenal memiliki perhatian besar terhadap penyelenggaraan Maulid Nabi ﷺ. Dikisahkan, seorang ulama named Ibnu Dihyah al-Kalbi menyusun karya tentang Maulid yang kemudian dipersembahkan kepada Raja al-Muzaffar. Atas karya tersebut, sang raja memberikan hadiah yang sangat besar.
Perayaan Maulid yang diselenggarakan Raja al-Muzaffar juga digambarkan sebagai acara besar yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat. Hewan ternak disembelih dalam jumlah besar. Ribuan ayam disiapkan, hidangan dibagikan kepada masyarakat, minuman disediakan, dan berbagai perlengkapan disiapkan untuk menjamu para tamu. Yang hadir bukan hanya masyarakat umum, tetapi juga para ulama, pejabat, tokoh masyarakat, serta berbagai kalangan lainnya. Bukhur atau wewangian juga digunakan dalam acara tersebut.
Semua itu menunjukkan satu pesan penting: kecintaan kepada Nabi ﷺ diwujudkan dengan menghadirkan kebahagiaan kepada orang lain. Maulid bukan sekadar berkumpul dan membaca sejarah Nabi. Di dalamnya terdapat majelis ilmu, shalawat, doa, sedekah, silaturahmi, serta idkhalus surur—memasukkan kebahagiaan ke dalam hati sesama Muslim.
Keberkahan Majelis Maulid
Dalam berbagai literatur keislaman klasik, terdapat banyak ungkapan ulama mengenai keutamaan shalawat dan majelis yang digunakan untuk mengingat Rasulullah ﷺ. Salah satu pesan yang sangat indah adalah bahwa majelis yang diisi dengan shalawat, zikir, dan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ merupakan majelis yang diharapkan mendapatkan limpahan rahmat Allah.
Karena itu, ketika umat Islam berkumpul dalam sebuah majelis Maulid, yang diperbanyak bukan hanya makanan dan acara seremonial, tetapi juga:
- membaca Al-Qur'an, - membaca shalawat, - mengingat sejarah Rasulullah ﷺ, - mempelajari akhlak beliau, - bersedekah, - menyambung silaturahmi, - serta mendoakan kaum Muslimin.
Dengan demikian, keberkahan Maulid tidak hanya dirasakan oleh orang yang hadir, tetapi juga diharapkan meluas kepada keluarga, masyarakat, dan lingkungan sekitarnya.
Mengapa Kita Membutuhkan Rahmat Allah?
Pada akhirnya, semua kembali kepada satu kebutuhan terbesar manusia: rahmat Allah. Harta bisa habis. Kesehatan bisa berubah. Jabatan bisa hilang. Usaha bisa naik dan turun. Bahkan kemampuan kita untuk beribadah pun merupakan pertolongan dari Allah.
Karena itu, yang paling kita butuhkan bukan sekadar banyaknya harta, tetapi rahmat Allah. Dengan rahmat Allah, dosa diampuni. Dengan rahmat Allah, kesulitan diberikan jalan keluar. Dengan rahmat Allah, hati diberi ketenangan. Dengan rahmat Allah, keluarga diberi keberkahan. Dan dengan rahmat Allah pula, kita berharap dikumpulkan bersama Rasulullah ﷺ di akhirat kelak.
Maka, perbanyaklah istighfar, perbanyaklah shalawat, dan hidupkan majelis-majelis yang mengingat Allah dan Rasul-Nya. Sebab boleh jadi, satu istighfar yang kita ucapkan dengan penuh kerendahan hati menjadi sebab Allah membuka pintu rahmat yang selama ini tidak pernah kita sangka.
Astaghfirullahal 'azhim wa atubu ilaih. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, melimpahkan rahmat dan keberkahan kepada kita, serta mengumpulkan kita bersama Rasulullah Muhammad ﷺ, keluarga, para sahabat, dan orang-orang saleh.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Tentang Penulis
Ahmad Ali Kaysiey
Ahmad Ali Kaysiey, redaktur Nur Media (via WhatsApp).


